Selasa, 21 Juni 2011

Bangun Bank Sampah Untuk Raih Adipura Kencana

BONTANG- Wali Kota Bontang Ir Adi Darma M SI mengatakan penghargaan yang diberikan pemerintah pusat kepada Kota Taman di bidang kebersihan akan dijadikan cambuk untuk semakin meningkatkan kebersihan kota. Yakni dengan terus melakukan inovasi yang berkaitan dengan lingkungan hidup seperti halnya membangun Bank Sampah.

Hal tersebut diungkapkan wali kota saat kirab keliling Piala Adipura ke-4, (8/6) lalu di Lapangan Kampung Baru PT badak Ngl.
”Walaupun sulit untuk mendapatkan piala ini, tapi lebih sulit adalah mempertahankannya hingga keempat kalinya ini. Untuk itu saya berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus melakukan upaya peningkatan dan melakukan inovasi dalam bidang kebersihan seperti halnya membangun bank sampah,”ujar Adi Darma.
Menurut Wali Kota Adi Darma secara sederhana mekanisme pembangunan Bank Sampah adalah mengedepankan unsur kekeluargaan yang dimotori oleh lurah dan dibantu oleh Rukun Tetangga (RT) dengan mendata keluarga yang tidak mampu.”Nasabah Bank Sampah bisa melakukan transaksi simpan pinjam, sebagai contoh jika ada nasabah yang kurang modal dan ingin melakukan usaha guna peningkatan taraf hidup maka dianjurkan untuk meminjam di Bank Sampah dan mekanisme pengembaliannya bukan dengan uang melainkan dengan sampah yang dinilai oleh petugas Bank berapa nilai rupiah yang terkandung pada sampah tersebut,”ungkapnya.
Untuk mengatur sistem Bank sampah ini, lanjut wali kota, kedepan akan dibuat peraturan walikota (Perwali).” Saya akan segera menginstruksikan kepada seluruh Lurah di 15 Kelurahan di Bontang untuk segera merealisasikan atau membangun Bank Sampah dan akan saya buat peraturan yang mengatur tentang sistem bank sampah ini,” jelas Adi.
Wali Kota berharap seluruh elemen masyarakat dapat mendukung sistem pembangunan bank sampah ini.” Pembangunan Bank Sampah ini diperuntukan bagi masyarakat Kota Taman yang termasuk dalam golongan ekonomi menengah kebawah. Dengan adanya Bank Sampah selain dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat pula menjadikan lingkungan sekitar warga lebih terkontrol dan semakin bersih. Sehingga di tahun 2012 mendatang kita dapat meraih Adipura Kencana,”paparnya.(hms9/hms4)



Investasi Bontang Naik 10 Persen. Pasar Domestik Tertarik Industri Rumah Tangga

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTPM) Kota Bontang mencatat terjadi kenaikan jumlah investasi sepanjang tahun 2010-2011 sebesar 10 persen. Konkritnya, dengan bergabungnya penanaman modal asing PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) dan penanaman modal dalam negeri PT Dahana JO Blackbear Indonesia serta PT First Marine Makassar (FMM).



KEPALA BPPTPM Kota Bontang Edy Yudizar S Sos MM didampingi sekretarisnya, Dra Hj Yuliatinur MM mengatakan, tahun 2011 ini KNI dan Dahana telah merampungkan proses pembangunan pabriknya, dan setelah itu akan mulai beroperasi. Sedangkan FMM sudah lebih dulu memulai kegiatan budidaya di wilayah perairan Kota Bontang. Dengan masuknya investasi tersebut maka persentase kenaikan investasi bergerak sekitar 10 persen.

Investasi KNI dan PT Dahana JO BBRI bergerak disektor petrokimia. Sedangkan PT FMM bergerak disektor budidaya rumput laut. Manajemen investor tersebut menjanjikan rekruitmen tenaga kerja lokal asal Bontang sesuai kualifikasi yang ada. Bahkan, PT Dahana JO BBRI, memberikan persyaratan warga asli Bontang yang pernah bersekolah di Bontang bagi tenaga kerja yang diterima.

“Dalam persyaratan utama yang kami ajukan untuk rekruitmen tenaga kerja memang mewajibkan warga Bontang dimana calon karyawan harus warga Bontang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk dan pernah bersekolah di Bontang,” ujar Public Relation PT Dahana JO BBRI Rina Erita saat menerima kunjungan monitoring investasi BPPTPM baru baru ini.

Jumlah naker lokal yang akan diterima sebanyak 90 orang untuk tenaga skill dan unskill. Hal yang sama pun diberlakukan PT FMM, yang mempekerjakan masyarakat lokasi budidaya rumput laut sebanyak 300 orang. Demikian halnya, PT KNI, perusahaan kerjasama PT ORICA dan Armindo Group.

PT Pupuk Kaltim yang juga akan memperluas bisnisnya dengan membangun pabrik Kaltim 5 pun akan mempekerjakan tenaga kerja lokal jika memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan. Edy Yudizar menambahkan bahwa, sejumlah investor telah menyampaikan keinginannya menanamkan modalnya di Bontang.

Seperti investor asal Korea Dongbu dan Colon yang bergerak disektor agrobisnis, konstruksi baja dan lainnya. Tidak ketinggalan, investor dalam negeri yang akan membangun sarana wisata waterpark. “Kedua investasi tersebut sudah diwacanakan dan saat ini kami masih menunggu realisasi dilapangan,” tambah Edy.

Guna mengawal rencana investasi tersebut BPPM selalu membuka kesempatan seluas luasnya bagi investor dengan cara memberikan kemudahan pelayanan perizinan dan jaminan kepastian hukum. Selain itu, BPPM gencar melakukan promosi Kota Bontang baik melalui pameran dalam negeri di beberapa kota besar.

Walhasil, selain memperkenalkan kota Bontang sebagai kota industry dan jasa, beberapa kerajinan khas Bontang pun mulai dikenal secara luas ditingkat nasional sehingga bisa menjadi komoditi unggulan.

“Target kami investasi yang masuk ke Bontang sebanyak banyaknya, sehingga pertumbuhan meningkat dan ada penyerapan tenaga kerja secara massal. Hal ini, tentu perlahan tapi pasti menunjang visi misi Pemerintah Kota Bontang,” tandas Edy. (hms1/zom)

Selasa, 22 Juni 2010

Langkah untuk Meraih Adipura ke Tiga

Selain Drainase, Pohon Peneduh Juga Diperhatikan
BONTANG - Adipura merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Presiden RI kepada kota atau kabupaten di Indonesia yang telah berhasil melaksanakan pengelolaan lingkungan perkotaan dengan baik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Strategi penghargaan adipura adalah menjadikan lingkungan sebagai isu strategis, lebih fokus dan memperhitungkan akuntabilitas, mengoptimalisasi peran serta masyarakat, serta mengupayakan reward dan mengantisipasi punishment, karena dalam rangkaian kegiatan-kegiatan Adipura setiap tahun diumumkan juga kabupaten/kota peraih penghargaan Adipura (sebagai reward) serta kota terkotor (sebagai punishment).

Meski berhasil meraih dua kali berturut-turut piala Adipura, bukan berarti persoalan kebersihan di Kota Taman telah selesai. Justru dengan piala adipura itu semestinya menjadi pemicu bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus membenahi lingkungan kota. Pemkot Bontang memang masih memusatkan perhatian pada kawasan pusat kota dan jalan protokol. Tetapi, kawasan pinggiran juga tetap disentuh, meski belum maksimal.

Untuk itulah, Pemkot Bontang memalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) mengundang nara sumber dari Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Kalimantan, Rafidin Rizal ST dan Muhammad Noor Andi Kusuma, dalam Sosialisasi Penilaian Adipura 2009 – 2010 dengan tema ‘Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim’ yang berlangsung di Ruang Rapat Bessai Berinta. (9/9) lalu.

Menurut Rafidin Rizal, pada unit kerja yang paling kecil seperti kelurahan dan kecamatan harus bisa memaksimalkan kebersihan lingkungan. Partisipasi masyarakat yang menjadi penilaian penting perlu ditingkatkan. Bahkan yang paling penting lagi adalah setiap rumah tangga harus memperhatikan kebersihan lingkungannya. begitu juga para pengusaha harus bisa menjaga kenyamanan di lingkungan perusahaannya.”Kebersihan dan keindahan jalan protokol menjadi nilai tambah. Bukan hanya bersih, taman-taman kota selalu bersemi karena rutin disirami. Kalau menyusuri jalanan dan berkeliling Bontang, sangat mudah ditemui pasukan kuning yang bekerja menyapu jalan dan menyingkirkan sampah. Selain partisipasi masyarakat, koordinasi dan kerja keras seluruh SKPD Instansi terkait, kemitraan dengan seluruh stakeholder merupakan faktor penting keberhasilan mencapai target Adipura,”ujarnya.

Ditambahkan Muhammad Noor, seluruh titik dan objek penilaian adipura harus ditingkatkan nilai kebersihannya, termasuk juga sarana pelengkap lainnya. “Keseluruhanya perlu tingkatkan, salah satunya seperti jalan.Bukan hanya bersihnya yang dinilai, tetapi juga kondisi drainase dan sebaran pohon peneduh penghijauan juga diperhatikan. Selain itu penertiban dan kebersihan di tempat-tempat umum seperti pasar, pertokoan dan rumah di lokasi titik pantau untuk menempatkan tong sampah,”tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Rafidin Rizal Persoalan lain yang patut mendapat sentuhan pengelolaan pasar tradisional dan pertokoan yang lekat dengan kekumuhan. “Pasar menyumbang sampah organik sekitar 80 persen. Pengelolaan sampah terpadu di pasar-pasar tradisional barangkali bisa membantu mengatasi persoalan. Bila sebelumnya pemerdayaan sampah di tingkatan warga berhasil dilakukan. Tentu di tingkat pasar juga akan bisa berhasil. Warga yang sedang gencar-gencarnya melakukan penghijauan dan kebersihan di lingkungan sekitar. Pemkot tetap harus mendorong semangat agar tidak segera pudar. Sembari itu pengelolaan infrastruktur pendukungnya dipenuhi, agar kebersihan Bontang tetap terjaga,”ungkapnya. (hms4)

 
Design by Radio Praja FM Bontang | Bloggerized by Praja FM | Bontang